Assalamualaikum sobat.. jumpa lagi di adventurous bear. Kali ini aku mau merekomendasikan salah satu jurnal UIN Jakarta yang membahas seputar psikologi. Nama jurnal ini adalah Tazkiya dengan judul “Pengaruh Sense of Humor dan Religiusitas Terhadap Kebahagiaan pada Lansia”. Bagaimana ya seseorang tetap bahagia di usia senja atau lansia ini ? yukk langsung saja kita simak.

Apa itu bahagia ?

Menurut admin pribadi bahagia adalah perasaan positif dimana kita merasa dicintai dan nyaman dalam berinteraksi dengan sekitar. Jadi semakin kita nyaman dalam lingkungan itu kita akan semakin merasa bahagia. Adapun menurut tokoh yaitu Seligman (2002) yang menyatakan bahwa  kebahagiaan  ialah  suatu  kondisi  dan  kemampuan  seseorang  untuk  merasakan emosi positif di masa lalu, masa depan, dan masa kini. Setiap individu masing-masing memiliki definisi subjektif terhadap kebahagiaan. Kebahagiaan merupakan aspek penting yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan suatu individu, baik mental maupun fisik. Dalam Al –Qur’an kebahagiaan diistilahkan dengan  kata  sa’adah  yang  selalu  dikaitkan  dengan  dua  syarat  yaitu  kebahagiaan  di  akhirat  dan kebahagiaan hidup di dunia (Abde & Salih, 2015).

Bagaimana lansia bahagia ?

Beberapa factor yang dapat mempengaruhi kebahagiaan lansia adalah sense of humor atau selera humor, religiusitas, dan demografi. Selera humor yang dimiliki oleh lansia mampu memunculkan rasa bahagia, mengurangi stress, dan meningkatkan optimis. Ketika lansia menggunakan humor dalam bersosialisasi atau berinteraksi dengan orang lain, lansia akan merasa nyaman, hangat, dan penuh kebahagiaan. Hal itu membuat situasi dan kondisi terjalin dengan positif antara lansia dan lingkungannya.

Kemudian ada religiusitas dimana lansia aktif dalam kegiatan religi. Biasanya lansia yang aktif dalam kegiatan ibadah kelompok seperti mengaji atau kajian bersama dapat meningkatkan kebahagiaan dalam diri lansia tersebut. Selain dapat bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman, menghadiri kegiatan ibadah kelompok dapat menciptakan rasa tenang karena dapat mengingat sang pencipta, mendapat kekuatan, serta mendapat dukungan sosial dari seitarnya krtika lansia merasa terasing dalam keluarga maupun lingkungan.

Yang terakhir adalah factor demografi. Factor demografi yang paling mempengaruhi kebahagiaan lansia adalah status tinggal bersama. Lansia yang tinggal sendiri, bersama pasangan, bersama anak-anaknya, atau kerabatnya, dapat mempengaruhi kebahagiaannya. Umumnya lansia akan lebih bahagia bila hidup atau tinggal bersama pasangannya dibanding tinggal sendiri atau bersama anak-anaknya. Jika dibandingkan antara tinggal sendiri dan bersama anak-anaknya, maka lansia akan lebih bahagia jika hidup sendiri dibanding dengan anak-anaknya. Hal tersebut terjadi karena biasanya lansia tidak memiliki komunikasi yang baik dengan keluarganya. Lansia sering merasa terasing dan kesepian jika tinggal bersama keluarga.